Jejak Emisi dari Limbah Cair Industri Sawit
30 Dec 2025 Nofita Ikayanti 38 Views
Berikut rangkuman dengan format berita (news) yang ringkas, informatif, dan netral:
Industri kelapa sawit, yang selama ini dikenal sebagai penyumbang devisa negara, juga menjadi sumber emisi gas rumah kaca yang signifikan akibat pembabatan hutan dan pengelolaan limbah cair yang belum optimal. Limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) kerap luput dari sorotan, padahal berpotensi menghasilkan emisi hingga 28 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida.
Berbagai kasus pencemaran lingkungan akibat limbah sawit terus terjadi, mulai dari pencemaran sungai dan air sumur warga hingga kematian ikan. Masalah ini banyak dipicu oleh penggunaan sistem pengolahan limbah kolam terbuka yang masih diterapkan di sebagian besar pabrik kelapa sawit. Sistem tersebut dinilai tidak efisien karena proses penguraian limbah berlangsung tanpa kendali dan melepaskan gas metana ke atmosfer.
Penelitian Ledis Heru Saryono Putro (2021) mencatat limbah cair sawit secara signifikan menghasilkan emisi metana (CH₄) dan karbon dioksida (CO₂), dengan emisi harian mencapai 261,93 gram/m² untuk metana dan 595,99 gram/m² untuk CO₂. Meski jumlah metana lebih kecil, kontribusinya terhadap pemanasan global jauh lebih besar dan mencapai 92,48% dari total emisi gas rumah kaca POME. Metana sendiri memiliki potensi pemanasan global 28 kali lebih besar dibandingkan CO₂.
Riset ilmiah menunjukkan sistem kolam terbuka menjadi salah satu penyumbang utama emisi metana di Asia Tenggara karena proses anaerobik yang berlangsung terus-menerus tanpa penangkapan gas. Selain emisi, pengelolaan limbah yang buruk juga berdampak langsung pada kesehatan dan ekonomi masyarakat sekitar, seperti pencemaran air sungai di Kalimantan Barat dan air sumur warga di Pringsewu, Lampung, yang memaksa warga membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Di sisi lain, POME memiliki potensi besar sebagai sumber energi terbarukan jika diolah dengan sistem kolam tertutup. Laporan AIDIC (2019) menyebutkan limbah ini dapat diubah menjadi biogas dan listrik, meski hingga kini sekitar 80% pabrik sawit di Malaysia masih menggunakan kolam terbuka. Sistem tertutup memang memerlukan investasi awal lebih besar, tetapi mampu menurunkan emisi, menggantikan bahan bakar fosil, dan menekan biaya operasional.
Putro memperkirakan pabrik dengan kapasitas 30 ton Tandan Buah Segar per jam dapat menghasilkan listrik hingga 1,045 MWe atau sekitar 8.600 MWh per tahun melalui pemanfaatan metana. Namun, tingkat pemanfaatan teknologi penangkapan metana di Indonesia masih rendah, hanya sekitar 5% pabrik sawit yang mengonversi limbah cair menjadi energi.
Para peneliti menilai penerapan teknologi penangkapan metana menjadi strategi paling efektif untuk menekan emisi, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui energi hijau dan kredit karbon. Tanpa perbaikan sistem pengolahan limbah dan pengawasan ketat, limbah cair sawit berpotensi terus menjadi sumber emisi dan pencemaran yang membebani lingkungan serta masyarakat sekitar.
Source; Donny Iqbal - https://mongabay.co.id/2025/11/15/jejak-emisi-dari-limbah-cair-industri-sawit/
Mari Tonton Video Lengkapnya
Transisi energi Indonesia dari fosil ke energi terbarukan dinilai berjalan lambat, ditandai dengan revisi target bauran energi terbarukan dan penundaan puncak emisi nasional.
-
30 Dec 2025
- 36 Views
Sejumlah negara, termasuk Inggris dan Kolombia, menyerukan penghentian penggunaan batubara untuk menahan laju krisis iklim. Meski Indonesia menyatakan komitmen transisi energi dan target net zero emission sebelum 2050, skeptisisme muncul karena rekam jejak pemerintah yang masih berpihak pada industri ekstraktif. Masyarakat harus waspada terhadap solusi palsu seperti swasembada energi berbasis batubara dan proyek energi skala besar yang berisiko menggusur warga.
-
13 May 2025
- 286 Views