Bagaimana Atasi Cemaran Mikroplastik di Udara Jakarta?
30 Dec 2025 Nofita Ikayanti 14 Views
Berikut **rangkuman dengan format news**:
---
**Air Hujan Jakarta Terdeteksi Mengandung Mikroplastik, BRIN Desak Pemantauan Serius**
**Jakarta** — Temuan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta memicu kekhawatiran publik dan mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendesak pemerintah segera menyusun kebijakan pemantauan mikroplastik di atmosfer. BRIN juga menilai pentingnya inventarisasi terpadu polusi udara dan sampah plastik perkotaan sebagai langkah pengendalian jangka panjang.
Pakar Pencemaran Laut BRIN, Muhammad Reza Cordova, menjelaskan bahwa mikroplastik di udara berasal dari degradasi limbah plastik akibat aktivitas manusia, seperti pembakaran sampah terbuka, emisi kendaraan, industri tekstil, hingga serat sintetis dari pakaian. Partikel-partikel ringan ini dapat berpindah melalui atmosfer dan turun bersama air hujan, terutama di wilayah perkotaan padat penduduk seperti Jakarta.
Penelitian BRIN yang berlangsung sejak 2022 menunjukkan rata-rata terdapat sekitar 15 partikel mikroplastik per meter persegi pada sampel air hujan di kawasan pesisir Jakarta. Bentuk yang paling banyak ditemukan adalah serat sintetis dan fragmen plastik kecil. Meski air hujan secara alami tidak beracun, keberadaan mikroplastik membuatnya berisiko karena mengandung bahan aditif berbahaya seperti bisfenol A (BPA) dan logam berat, serta mampu mengikat polutan lain dari asap kendaraan.
Reza menegaskan, pengendalian mikroplastik harus dimulai dari hulu dengan memperkuat sistem *reduce, reuse, recycle* (3R), menghentikan pembakaran sampah terbuka, mengurangi plastik sekali pakai, serta meningkatkan fasilitas daur ulang. Ia juga mendorong industri tekstil memasang sistem penyaring pada mesin cuci untuk menahan pelepasan serat sintetis ke lingkungan.
Dari sisi kesehatan, mikroplastik dinilai berpotensi menimbulkan gangguan serius. Pengajar Kesehatan Lingkungan Universitas Gadjah Mada, Annisa Utami, menyebut berbagai riset global telah menemukan mikroplastik dalam darah, organ, dan sistem pencernaan manusia. Paparan jangka panjang berisiko memicu stres oksidatif, gangguan hormon, hingga kerusakan jaringan, meski dampak spesifiknya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Pakar Ekotoksikologi IPB University, Etty Riani, menambahkan bahwa kondisi lingkungan seperti suhu tinggi dan udara kering dapat mempercepat pelapukan plastik sehingga partikel mikroplastik lebih mudah terangkat ke atmosfer. Karena itu, ia menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mengubah gaya hidup, memilah sampah dari rumah, serta menghindari produk yang mengandung mikroplastik.
Pemerintah pun diminta mengambil langkah preventif. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama setelah hujan, guna mengurangi risiko terhirupnya partikel mikroplastik. Para ahli sepakat, tanpa kebijakan berbasis data dan perubahan perilaku kolektif, mikroplastik di udara berpotensi menjadi ancaman kesehatan dan lingkungan yang semakin meluas.
Source: M Ambari - https://mongabay.co.id/2025/11/06/bagaimana-atasi-cemaran-mikroplastik-di-udara-jakarta/
Mari Tonton Video Lengkapnya
Januari 2025 tercatat sebagai bulan Januari terpanas dalam sejarah, meskipun ada fenomena La Niña yang biasanya menurunkan suhu global. Para ilmuwan menyebut pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca telah mengalahkan efek pendinginan alami, dan mendesak pengurangan drastis penggunaan bahan bakar fosil serta penghentian deforestasi.
-
13 May 2025
- 304 Views
Krisis Iklim Tekan Pangan dan Lingkungan, I-CAN Diluncurkan sebagai Jembatan Solusi Berbasis Alam
-
30 Dec 2025
- 13 Views