krisis iklim

Ketika Seni Bicara Krisis Iklim

30 Dec 2025 Nofita Ikayanti 37 Views

Festival Kiamat Ekosistem (FKE) 2025 di Yogyakarta menghadirkan instalasi seni sebagai medium refleksi krisis iklim dan degradasi lingkungan, khususnya ekosistem laut dan persoalan sampah. Salah satu karya yang menarik perhatian adalah instalasi berjudul Jagat Wis Ora Karuan karya seniman muda Rizki Maulana, yang menampilkan 12 pelampung laut dengan kondisi berbeda—dari bersih hingga kusam dan terjerat jaring ikan—sebagai simbol kerusakan ekosistem maritim akibat eksploitasi berlebihan.


Rizki menjelaskan pelampung dipilih karena merepresentasikan fungsi penyelamatan, namun kehilangan maknanya ketika rusak dan terjerat limbah alat tangkap. Karya ini merupakan hasil riset sejak 2019 terkait praktik perikanan merusak, seperti penggunaan alat tangkap yang mengubah dasar laut dan menghancurkan terumbu karang. Latar belakangnya sebagai anak nelayan di Brebes, Jawa Tengah, memperkuat perspektif personal terhadap krisis ekologi laut yang selama ini kurang mendapat perhatian publik dibanding kerusakan darat.


Selain itu, FKE 2025 juga menampilkan instalasi Hantu Masa Depan karya Untonk, berupa figur pocong yang merefleksikan isu sampah sebagai ancaman ekologis masa depan. Kurator pameran, Rucita Dara, menyebut karya tersebut menggabungkan unsur tradisional dan kontemporer untuk menggambarkan sampah sebagai “hantu” nyata yang menghantui kehidupan masyarakat, termasuk di Yogyakarta yang masih bergulat dengan persoalan pengelolaan sampah.


Tak hanya mengangkat problem, festival ini turut menawarkan alternatif solusi melalui lokakarya, diskusi, dan praktik berbasis pengetahuan lokal. Salah satunya adalah program pangan lokal Dari Dapur Mama oleh perempuan Papua yang menampilkan pengolahan pangan dari sumber daya sekitar. Direktur FKE, Fiza Raehana, menyatakan festival ini menjadi ruang bersama untuk berbagi kegelisahan sekaligus belajar adaptasi iklim dari berbagai komunitas.


FKE 2025 juga menghadirkan pasar rakyat yang memperkenalkan produk berkelanjutan, mulai dari sabun alami dan kombucha hasil pertanian regeneratif hingga pangan lokal seperti jali, sorgum, dan tempe koro. Para pelaku menekankan pentingnya keberagaman pangan dan praktik ramah lingkungan sebagai respons atas krisis ekosistem dan penyeragaman sistem pangan nasional.


Source; Triyo Handoko - https://mongabay.co.id/2025/08/30/ketika-seni-bicara-krisis-iklim/

Artikel Lainnya