Menghitung Jejak Emisi Karbon dari Pertambangan Nikel
30 Dec 2025 Nofita Ikayanti 39 Views
Pertumbuhan mobil listrik sebagai simbol transisi energi bersih menyimpan dampak ekologis serius di balik rantai pasoknya, khususnya dari pertambangan nikel. Studi terbaru peneliti University of Queensland yang dipublikasikan di Nature Communications mengungkap bahwa emisi karbon akibat pembukaan lahan tambang nikel bisa mencapai 4 hingga 500 kali lebih besar dibandingkan emisi langsung dari proses penambangan dan pengolahan.
Penelitian yang menganalisis 481 lokasi tambang nikel global menunjukkan bahwa emisi dari deforestasi kerap diabaikan dalam perhitungan karbon dan laporan keberlanjutan, padahal permintaan nikel diproyeksikan meningkat dua kali lipat pada 2050 seiring kebutuhan baterai kendaraan listrik dan teknologi energi terbarukan. Dampak lingkungan tambang juga terlihat di tingkat lokal. Studi University of Greenwich di Sulawesi menemukan desa-desa dekat tambang mengalami deforestasi hampir dua kali lipat dibanding wilayah non-tambang.
Di Halmahera, Maluku Utara, aktivitas pertambangan dan kawasan industri nikel seperti IWIP memicu ancaman kesehatan serius. Pemantauan menunjukkan tingginya kandungan merkuri dan arsenik dalam darah warga, serta pencemaran air dan udara. Laporan Climate Rights International menegaskan bahwa pembangunan PLTU batubara untuk mendukung industri nikel, disertai deforestasi luas, justru memperparah krisis iklim dan melanggar hak asasi manusia.
Sejumlah organisasi lingkungan mencatat dampak meluas tambang nikel di Indonesia, mulai dari alih fungsi lahan ratusan ribu hektar, rusaknya ekosistem pulau-pulau kecil, hingga hilangnya mata pencaharian puluhan ribu keluarga nelayan. Meski nikel dikenal mudah didaur ulang, para peneliti menekankan pentingnya menghindari pembukaan tambang baru di wilayah dengan cadangan karbon tinggi seperti hutan hujan dan mangrove.
Para ahli mendorong transparansi, audit lingkungan terbuka, serta pelaporan emisi berbasis penggunaan lahan agar transisi menuju energi rendah karbon tidak justru menciptakan krisis ekologis baru.
Source: Donny Iqbal https://mongabay.co.id/2025/08/22/menghitung-jejak-emisi-karbon-dari-pertambangan-nikel/
Mari Tonton Video Lengkapnya
Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa perubahan iklim berdampak serius pada populasi burung di Hutan Amazon yang masih utuh. Dari 29 spesies burung pemakan serangga yang diteliti, 24 mengalami penurunan populasi akibat berkurangnya curah hujan dan jumlah serangga. Para peneliti memperkirakan kenaikan suhu 1°C selama musim kemarau dapat menurunkan tingkat kelangsungan hidup burung hingga 63%. Temuan ini memperkuat bukti bahwa pemanasan global telah memengaruhi ekosistem Amazon secara signifikan, bahkan di area yang sebelumnya dianggap sebagai zona aman bagi keanekaragaman hayati.
-
19 May 2025
- 269 Views
Tanpa aksi nyata dan penegakan hukum terhadap korporasi perusak lingkungan, seruan moral dari umat beragama dinilai akan sia-sia.
-
19 Oct 2025
- 86 Views