Transisi Energi Bersih Afrika Dinilai Berisiko Ulangi Ketimpangan Global
30 Dec 2025 Nofita Ikayanti 32 Views
BARCELONA — Dorongan industrialisasi hijau sebagai jalan memperluas akses listrik bersih di Afrika menuai kritik dari sejumlah pengamat. Meski dipandang mampu menarik investasi untuk memenuhi kebutuhan listrik sekitar 600 juta warga Afrika yang masih hidup tanpa listrik, pendekatan ini dinilai berisiko memperkuat ketimpangan struktural yang telah lama membebani benua tersebut.
Isu just transition atau transisi energi yang adil kembali mengemuka dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) di Brasil, November lalu, melalui pengesahan Belém Action Mechanism (BAM). Mekanisme ini dipuji karena mengakui hak pekerja dan masyarakat adat serta mendorong pendanaan berbasis hibah. Namun, para delegasi gagal menyepakati peta jalan penghentian penggunaan bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas.
Ekonom Tunisia-Amerika, Fadhel Kaboub, memperingatkan bahwa konsep “green industrialization” yang didorong negara-negara Global North berpotensi menjadikan Afrika tetap sebagai sumber bahan mentah dan tenaga kerja murah, alih-alih membangun kapasitas industri dan teknologi lokal. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat membebani Afrika dengan utang baru dan investasi energi kotor yang kelak terbengkalai, sementara negara maju memanfaatkan mineral kritis Afrika untuk mendekarbonisasi sistem energi mereka sendiri.
Kaboub menekankan bahwa Afrika memiliki potensi besar energi terbarukan—surya, angin, dan hidro—serta cadangan mineral penting seperti kobalt, litium, dan tembaga. Namun, akses terhadap teknologi manufaktur dan transfer pengetahuan masih dibatasi. Ia mendorong negara-negara Afrika membentuk blok kerja sama untuk menegosiasikan kemitraan yang lebih setara, termasuk joint venture dan transfer teknologi berbasis in-kind contribution.
Menurut Kaboub, strategi ini tidak hanya penting untuk memperluas akses listrik dan energi bersih, tetapi juga untuk menciptakan industrialisasi sejati, meningkatkan kesejahteraan, dan mengakhiri ketergantungan kolonial dalam sistem energi global. Ia menegaskan, transformasi tersebut hanya dapat terwujud melalui kepemimpinan Afrika sendiri, bukan hadiah dari negara maju.
Source: Jihn Cannon - https://news.mongabay.com/2025/12/the-bargain-of-the-century-an-economists-vision-for-expanding-clean-energy-access-in-africa/
Mari Tonton Video Lengkapnya
Pemerintah dorong pasar karbon sukarela lewat kerja sama internasional, namun masyarakat sipil menilai skema ini tidak efektif menurunkan emisi dan justru memperpanjang ketergantungan pada karbon.
-
19 Oct 2025
- 134 Views
Krisis Iklim Tekan Pangan dan Lingkungan, I-CAN Diluncurkan sebagai Jembatan Solusi Berbasis Alam
-
30 Dec 2025
- 12 Views