Cuaca Ekstrem Tekan Produksi Pala di Pulau Banda
30 Dec 2025 Nofita Ikayanti 16 Views
Maluku Tengah, Desember 2025** — Perubahan cuaca yang kian tak menentu menyebabkan produksi pala di sejumlah pulau di Kepulauan Banda, Maluku Tengah, merosot tajam. Hujan berkepanjangan disertai angin kencang membuat bunga dan buah pala muda busuk serta rontok sebelum masa panen, mengancam sumber penghidupan petani setempat.
Saiful Lamadi (44), petani pala di Negeri Pulau Selamon, Pulau Banda Besar, mengungkapkan hasil panen dari kebun dua hektare miliknya turun drastis. Dari rata-rata tujuh karung per musim, kini hanya tersisa dua karung. Menurutnya, cuaca ekstrem menjadi faktor utama penurunan produksi, bukan serangan hama. Kondisi serupa juga dialami Sayidah (59), petani pala di Negeri Pulau Ay, yang hampir setiap tahun kehilangan banyak buah akibat hujan berkepanjangan.
Dalam kondisi normal, pala dipanen tiga kali setahun, dengan panen besar pada April serta panen kecil pada Juni dan Desember. Meski harga pala di tingkat petani relatif tinggi—mencapai Rp220 ribu per kilogram karena pasokan berkurang—hal itu belum mampu menutup kerugian akibat rendahnya hasil panen. “Harga ada, tapi buahnya sedikit,” ujar Sayidah.
Petani muda di Pulau Rhun, Mirani Kusni, menilai tekanan lingkungan diperparah oleh keterbatasan pengetahuan pengelolaan kebun. Hingga kini, pala masih dibudidayakan secara tradisional. Di wilayah ini dikenal istilah lokal *ombong mei* untuk menyebut cuaca ekstrem. Salah satu cara bertahan yang dilakukan petani adalah mengasapi kebun agar buah tidak mudah rontok saat hujan dan untuk mengusir organisme pengganggu.
Kepala Pemerintahan Pulau Rhun, Salihi Surahi, menyebut sebagian besar kebun pala berusia puluhan tahun, bahkan peninggalan masa kolonial. Selain cuaca, serangan hama berupa bercak putih pada daun turut melemahkan tanaman. Diperkirakan 60–70 persen kebun pala mengalami penurunan produksi.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Maluku Tengah, Said Mohamad Al Idrus, mengatakan persoalan pala di Pulau Banda berkaitan dengan usia tanaman yang sudah tua serta pengelolaan kebun warisan Belanda. Pemerintah daerah tidak lagi menargetkan perluasan lahan, melainkan fokus pada intensifikasi dan perbaikan kebun melalui pendataan calon petani dan lahan agar intervensi tepat sasaran.
Penelitian dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku juga menekankan pentingnya peningkatan teknik pengendalian hama dan penyakit pala berbasis teknologi pertanian. Keberlanjutan pala sebagai ikon Pulau Banda dinilai membutuhkan kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah desa di tengah tekanan perubahan iklim yang kian nyata.
Pesireron, M., Kaihatu, S., Suneth, R., & Ayal, Y. (2025). Perbaikan teknik pengendalian hama dan penyakit perkebunan pala Banda (Myristica fragrans Houtt) di Maluku / Control Techniques Improvement of Banda Nutmeg Pest and Disease in Maluku. Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. https://repository.pertanian.go.id/items/5e12c076-efbd-4dcc-af85-1abee0eb0cba
Tanpa aksi nyata dan penegakan hukum terhadap korporasi perusak lingkungan, seruan moral dari umat beragama dinilai akan sia-sia.
-
19 Oct 2025
- 87 Views
RUU Perubahan Iklim mendesak disahkan untuk memperkuat dasar hukum, melindungi kelompok rentan, dan menciptakan kepastian bagi investasi hijau di tengah krisis iklim yang semakin nyata di Indonesia.
-
19 Oct 2025
- 121 Views